Isi dari teori Machaivelli ( Skinner,1985:4) sebagai berikut.
#Untuk
melakukannya, seorang penguasa yang bijak hendaknya mengikuti jalur
yang dikedepankan berdasarkan kebutuhan, kejayaan, dan kebaikan Negara.
Hanya memadukan machismo semangat keprajuritan, dan pertimbangan politik, seorang penguasa barulah dapat memenuhi kewajiban kepada Negara mencapai keabadian sejarah.- Penguasa bijak hendaknya memiliki hal-hal sebagai berikut
1) Sebuah kemampuan untuk menjadi baik sekaligus buruk, baik dicintai maupun di benci
2) Watak-watak, seperti ketegasaan, kekejaman,kemandirian, disiplin, dan control diri.
3) Sebuah reputasi menyangkut kemurahan hati,pengampunan, dapat dipercaya dan tulus.
#Seorang
pangeran harus berani untuk melakukan apapun yang diperlukan, betapa
pun tampak tercela karena rakyat pada akhirnya hanya peduli dengan
hasilnya, yaitu kebaikan Negara
Untuk
mencapai sukses, seorang penguasa harus dikelilingi dengan
menteri-menteri yang mampu dan setia, Machiavelli memperingatkan
penguasa agar menjauhkan diri dari penjilat dan minta pendapat apa yang
layak dilakukan. seorang penguasa yang cermat tidak harus memegang
kepercayaannya jika pekerjaan itu berlawanan dengan kepentingannya.
“…Dia
menambahkan, “Karena tidak ada dasar resmi yang menyalahkan seorang
Penguasa yang minta maaf karena dia tidak memenuhi janjinya,” karena “…
manusia itu begitu sederhana dan mudah mematuhi kebutuhan-kebutuhan yang
diperlukannya saat itu, dan bahwa seorang yang menipu selalu akan
menemukan orang yang mengijinkan dirinya ditipu.”
Tidak
seperti pemikir Abad Pertengahan, Machiavelli melihat kekuasaan sebagai
tujuan itu sendiri. Ia menyangkal asumsi bahwa kekuasaan adalah alat
atau instrumen belaka untuk mempertahankan nilai-nilai moralitas, etika
atau agama. Bagi Machiavelli segala kebajikan, agama, moralitas justru
harus dijadikan alat untuk memperoleh dan memperbesar kekuasaan. Bukan
sebaliknya. Jadi kekuasaan haruslah diperoleh, digunakan, dan
dipertahankan semata-mata demi kekuasaan itu sendiri. Dengan
pandangannya itu, Machiavelli menolak tegas doktrin Aquinas tentang
gambaran penguasa yang baik. Aquinas dalam karyanya The Government of Princes
berpendapat bahwa penguasa yang baik harus menghindari godaan kejayaan
dan kekayaan-kekayaan duniawi agar memperoleh ganjaran syurgawi kelak.
Bagi Machiavelli justru terbalik, penguasa yang baik harus berusaha
mengejar kekayaan dan kejayaan karena keduanya merupakan nasib mujur
yang dimiliki seorang penguasa.
Bagi Machiavelli kekuasaan adalah raison d’etre negara (state). Negara juga merupakan simbolisasi tertinggi kekuasaan politik yang sifatnya mencakup semua (all embracing)
dan mutlak. Bertolak dari pandangan-pandangan Machiavelli di atas
beberapa sarjana berpendapat bahwa Machiavelli memiliki obsesi terhadap
negara kekuasaan (maachstaat) dimana yang kedaulatan tertinggi terletak pada kekuasaan penguasa dan bukan rakyat dan prinsip-prinsip hukum.
Dalam
kaitannya dengan kekuasaan seorang penguasa, Machiavelli membahas
perebutan kekuasaan (kerajaan). Bila seorang penguasa berhasil merebut
suatu kerajaan maka ada cara memerintah dan mempertahankan negara yang
baru saja direbut itu.
1.
Memusnahkannya sama sekali dengan membumihanguskan negara dan membunuh
seluruh keluarga penguasa lama. Tidak boleh ada yang tersisa dari
keluarga penguasa lama sebab hal itu akan menimbulkan benih-benih
ancaman terhadap penguasa baru suatu saat kelak.
2.
Dengan melakukan kolobisasi, mendirikan pemukiman-pemukiman baru dan
menempatkan sejumlah besar pasukan infantri di wilayah koloni serta
menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangga terdekat. Cara
kolonisasi pernah dilakukan bangsa Romawi.
Dari kedua cara itu menurut Machiavelli cara pertama adalah cara yang paling efektif meski bertentangan dengan aturan moralitas.
Dalam The Prince,
Machiavelli juga menguraikan bahwa mereka yang menjadi penguasa lewat
cara-cara keji, kejam, dan jahat tidaklah dapat disebut memperoleh
kekuasaan berdasarkan kebajikan (virtue) dan nasib baik (fortune).
Cara itu seperti dipraktekkan Agathocles yang membunuh secara biadab
senator Syarcuse demi menduduki tahta kekuasaan, memang bisa menjadikan
mereka penguasa negara. Tetapi kata Machiavelli penguasa itu tidak akan
dihormati dan dipuja sebagai pahlawan. Apalagi setelah berkuasa ia
menjadikan kekerasan, kekejaman dan perbuatan keji lainnya sebagai
bagian dari kehidupan politik sehari-hari. Machiavelli menyimpulkan
bahwa cara-cara itu hanya akan menjadikan sang penguasa berkuasa tetapi
tidak menjadikannya terhormat, pahlawan atau orang besar.
Machiavelli
menyarankan kalaupun seorang penguasa boleh melakukan kekejaman dan
menggunakan “cara binatang” hendaknya dilakukan tidak terlalu sering.
Setelah melakukan tindakan itu, ia harus bisa mencari simpati dan
dukungan rakyatnya dan selalu berjuang demi kebahagiaan mereka. Dia juga
harus berusaha agar selalu membuat rakyat tergantung kepadanya.
Kearifan dan kasih sayang terhadap rakyat, kata Machiavelli , akan bisa
meredam kemungkinan timbulnya pembangkangan. Penguasa yang dicintai
rakyatnya tidak perlu takut terhadap pembangkangan sosial. Inilah
menurut Machiavelli usaha yang paling penting yang harus dilakukan
seorang penguasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar