Dalam sejarah agama kuno, menurut machiavelli, hanya nabi-nabi bersenjata (the armed prophets)
dan memiliki kekuatan militer yang berhasil memperjuangkan misi
kenabiannya. Sedangkan para nabi yang tidak bersenjata, betapa baik dan
sakralnya misi yang mereka bawa, akan mengalami kekalahan karena tidak
memiliki kekuatan militer . Atas dasar asumsi itu machiavelli menilai
keberadaan angkatan perang yang kuat sebagai suatu keharusan yang
dimilki negara. Machiavelli menyadari benar akan pentingnya angkatan
bersenjata bagi seorang penguasa negara. Angkatan bersenjata, menurut
Machiavelli merupakan basis penting seorang penguasa negara. Ia
merupakan manifestasi nyata kekuasaan negara. Penguasa yang tidak
memiliki tentara sendiri akan mudah goyah dan diruntuhkan kekuasaannya.
Menurut Machiavelli sungguh berbahaya menggunakan tentara sewaan. Kalau
seorang penguasa mengandalkan tentara sewaan, ketenangan dan keamanan
negara tidak bisa dijamin. Negara mudah goyah. Machiavelli menyebutkan
alasan-alasan mengapa demikian. Tentara sewaan katanya tidak bisa
disatukan, haus akan kekuasaan, tidak berdisiplin, tidak setia kepada
penguasa (yang menyewa mereka), tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan,
tidak memiliki tanggung jawab, tidak setia terhadap sesama rekan mereka,
dan menghindarkan diri dari peperangan.
Kehancuran
Italia pad masa hidup Machiavelli adalah karena negaranya mengandalkan
tentara sewaan itu selama bertahun-tahun dan tidak memiliki tentara
sendiri. Pengalaman sejarah membuktikan hanya para penguasa dan negara
republik yang memiliki tentara kuat berhasil baik, dan penggunaan
tentara bayaran hanya mendatangkan kekalahan. Sejarah Romawi dan Sparta
menunjukkan kebenaran pendapat itu. Kedua negara itu mampu bertahan
karena memiliki tentara sendiri, sedangkan negara Chartago dikalahkan
karena tidak memiliki tentara sendiri dan mengandalkan tentara bayaran.
Gagasan
Machiavelli ini, menurut hemat saya merupakan refleksi pengalaman
pribadinya menyaksikan ‘pengkhianatan’ pemimpin tentara bayaran Vitelli
terhadap negaranya.
Begitu
pentingnya militer bagi suatu negara dan usaha mempertahankan
kekuasaan, maka penguasa harus menjadikan keahlian kemiliteran sebagai
barang miliknya yang paling berharga. Ia juga harus senantiasa belajar
ilmu perang dan bertempur. Oleh karena itu seorang penguasa tidak boleh
lengah untuk selalu memikirkan dan melatih dirinya dalam latihan perang
dan kemiliteran (exercise of war). Intensitasnya melakukan
latihan perang di masa damai harus lebih besar daripada di masa perang.
Saat-saat damai hendaknya dijadikan persiapan untuk menghadapi perang.
Tidak ada perdamaian tanpa persiapan matang untuk perang.
Dalam
latihan perang, penguasa dan tentaranya harus selalu disiplin dan
terbiasa hidup dengan cara keras. Dengan demikian tubuhnya akan terbiasa
dengan penderitaan. Untuk memenangkan peperengan mereka harus
mengetahui ilmu tntang alam, tanah, dan sungai-sungai. Maka dalam
latihan perang tercakup pelajaran mengenai strategi bagaimana bisa tetap
hidup (how to survive), mendaki gunung dan lembah, menyusuri
sungai-sungai dan rawa-rawa. Semua pengetahuan ini menurut Machiavelli
penting setidaknya untuk dua hal.
1. Tentara dan penguasa mengetahui persis keadaan negaranya.
2. Mengerti cara bagaimana mempertahankannya dari serangan musuh.
Dengan
memiliki pengetahuan dan pengalaman menjelajahi bukit, gunung dan
menyusuri sungai maupun rawa-rawa pada suatu bagian tertentu di
negaranya, maka ia akan memahami kawasan-kawasan lain yang memiliki
karakteristik serupa dengan kawasan yang dipelajari dan ditelusurinya
itu. Dengan mengetahui satu wilayah, ia akan mudah memahami
wilayah-wilayah di negara lainnya. Dengan memiliki pengetahuan itu juga
tentara dan penguasa akan mudah menemukan musuh-musuhnya dan merebut
markas-markas tentara yang dikuasai musuh-musuh mereka.
Untuk
memahami segala seluk beluk mengenai perang dan tentara, Machiavelli
juga menyarankan kepada penguasa agar selalu belajar dari pengalaman
penguasa atau kaisar-kaisar lain di masa lalu. Misalnya mempelajari
bagaimana cara bertempur yang baik, mempertahankan diri dari serangan
musuh, melakukan serangan balasan yang efektif dan cara-cara bagaimana
mereka memenangkan suatu peperangan dan sebagainya. Seorang penguasa
tidak perlu malu-malu untuk mencontoh keberhasilan-keberhasilan mereka.
Menurut Machiavelli, cara belajar demikianlah yang dilakukan Alexander
Agung yang mencontoh Achilles, Caesar dan Scipio Syrus. Inilah sumbangan
penting pemikiran Machiavelli bagi perkembangan teori-teori perang dan
kemiliteran.
The Prince juga
menguraikan tentang perlunya penguasa mempelajari sifat-sifat terpuji
dan yang tak terpuji. Dia harus berani melakukan tindakan tidak terpuji –
kejam, bengis, khianat, kikir – asalkan itu baik bagi negara dan
kekuasaannya. Untuk mencapai tujuan, cara apapun bisa digunakan (the
ends justify the means). Oleh karena itu penguasa tidak perlu takut
untuk tidak dicintai,asalkan ia tidak dibenci rakyat.
Dengan
kata lain, penguasa harus pandai-pandai menggunakan cara-cara manusia
dan cara binatang bila saat-saat tertentu dibutuhkan. Asumsi ini muncul
di benak Machiavelli karena menurutnya manusia memiliki dua sifat yang
bertentangan, yaitu sifat manusia – tulus, penyayang, baik, pemurah,
tetapi juga memiliki sifat-sifat binatang atau sifat tak terpuji, jahat,
kikir, bengis, dan kejam. Kedua sifat manusia yang paradoksal ini
membawa implikasi terhadap cara menangani persoalan politik. Cara
penanganan persoalan politik dengan ‘cara manusia’, misalnya lewat
prosedur hukum dan pengadilan, tidak efektif tanpa disertai ‘cra
binatang’. Tetapi bisa terjadi sebaliknya, cara binatang juga tidak
efektif tanpa menggunakan cara manusia. Kedua cara itu ibarat two sides of the same coin (dua sisi pada satu koin yang sama).
Machiavelli
berpendapat bahwa penguasa negara bisa menggunakan cara binatang,
terutama ketika menghadapi lawan-lawan politiknya. Dalam The Prince dikemukakan bahwa seorang penguasa bisa menjadi singa (lion) di satu saat, dan menjadi rubah (fox)
di saat lainnya. Menghadapi musuhnya yang ganas bagai seekor serigala,
penguasa hendaknya bisa berperangai seperti singa, karena dengan cara
itulah ia bisa mengalahkan lawannya. Tetapi penguasa harus bersikap
seperti rubah bila lawan yang dihadapinya adalah perangkap-perangkap
musuh. Bukan singa yang mampu mengendus perangkap-perangkap itu,
melainkan rubah. Rubah amat peka dengan perangkap yang akan menjerat
dirinya.
Bertitik
tolak dari premis itu, Machiavelli berpendapat bahwa seorang penguasa
ideal adalah Archilles yang belajar jadi penguasa dari Chiron. Chiron
adalah mahluk berkepala manusia berbadan dan berkaki kuda dalam mitologi
Yunani kuno. Artinya, seorang penguasa harus memiliki watak manusia dan
watak kebinatangan pada saat yang sama. Machiavelli menulis bahwa
dengan belajar dari mahluk seperti Chiron, penguasa diharapkan bisa
mengetahui bagaimana menggunakan sifat manusia dan sifat binatang.
Menggunakan salah satu cara berkuasa tanpa cara lainnya tidak akan
berhasil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar